Bagaimana data Mereka Diekstrak oleh Aplikasi melalui Pelacakan Lokasi

anewsindonesia - Laporan terbaru menunjukkan bahwa mengaktifkan aplikasi dengan izin yang diperlukan dan mengakses aplikasi ini dapat berkontribusi pada kecobran data pribadi melalui fitur pelacakan telepon.

Dampak privasi dari beberapa izin yang diberikan ke aplikasi dan layanan tidak diketahui oleh pengguna seluler dan peneliti dapat mengklarifikasikan jenis data apa yang diperoleh dari aplikasi dengan fitur pelacakan.

Dua peneliti dari Universitas Bologna, Italia, dan Benjamin Baron dari University College London, Inggris, memang mempelajari bagaimana pemrosesan data ini dapat menyebabkan pelanggaran privasi konsumen.

Untuk tujuan ini, para penyelidik telah membangun aplikasi smartphone TrackingAdvisor yang menangkap lokasi pengguna secara bersamaan.

Aplikasi dapat mengumpulkan informasi pribadi dari data yang sama dan meminta pengguna untuk memberikan masukan tentang validitas informasi dalam hal sensitivitas data dan untuk menilai.

Sebagian besar pengguna tidak menyadari implikasi privasi dari beberapa izin yang mereka berika ke aplikasi dan layanan, khususnya terkait informasi pelacakan lokasi.

       Kata Mirco Musolesi dari Universitas Bologna.

Data ini berisi informasi rahasia, termasuk tempat tinggal pengguna, preferensi, keinginnan, demorafi dan informasi kepribadian.

Diterbitkan dalam Prosiding ACM untuk Perangkat interaktif, Seluler dapat dipakai, dan Every whare, melalui aplikasi TrackingAdvisor yang digunakan dalam laporan tersebut, para peneliti dapat mengidentifikasi informasi pribadi apa yang dikumpulkan perangkat lunak dan seberapa rentannya terhadap privasi.

Apllikasi TrackingAdvisor memantau lebih dari 2.00.000 lokasi, menemukan hampir 2.500, dan mengumpulkan lebih dari 5.000 data kepribadian dan demografis.

Peneliti menemukan di antara data yang diperoleh, bahwa informasi rahasia juga dikumpulkan tentang kebugaran, status sosial ekonomi, ras, dan agama.

Kami pikir penting untuk menunjukkan kepada pengguna jumlah dan kualitas informasi yang dapat dikumpulkan aplikasi melalui pelacakan lokasi, Yang tak kalah penting bagi kemi adalah memahami apakah pengguna menganggap berbagi informasi dangan manajer aplikasi atau perusahaan pemasaran dapat diterima atau dianggap sebagai pelanggaran privasi mereka.

        Kata Musolesi dari UNiversitas Bologna.

Menurut para peneliti, analisis seperti ini membuka jalan bagi kemajuan skema iklan yang disesuaikan, khususnya data yang mereka anggap lebih sensitif bagi konsumen.

Ini juga dapat mengarah pada sistem yang secara otomatis dapat mencegah pengumpulan data sensitif dari pihak ketiga.

 

Menyukai Anonymous News Indonesia ? Follow Twitter dan Instagram kami agar tidak ketinggalan update terbaru dari kami.