anewsindonesia - Analisis kampanye ransomeware terhadap pendidikan tinggi menemukan bahwa Serangan kepada universitas selama tahun 2020 naik 100 persen dibandingkan dengan 2019, bahkan permintaan tebusan rata-rata bisa mencapai $447.000 (Rp. 6.296.442.00).

Ransomeware biasanya mencangkup masalah di semua sektor, tetapi untuk pendidikan tinggi merupakan masalah khusus karena pandemi Covid-19 menjadikan siswa menerima pengajaran secara online.

Departemen Teknik Informasi kewalahan mungkin saja tidak memiliki kemampuan untuk menangani keamanan sepenuhnya, memberikan celah untuk mengeksploitasi penjahat cyber.

Berglas juga mengatakan staf Teknik Informasi sudah sibuk memastikan siswa dan staf memiliki alat yang diperlukan untuk melakukan pembelajaran jarak jauh, mulai dari konfigurasi perangkat dan pemasangan perangkat lunak bahkan kamera baru hingga membantu pengguna akhir yang mengalami masalah dengan teknologi terbaru.

"Sekolah ini mungkn tidak memiliki sumber daya untuk mengamankan jaringan dengan baik" katanya.

Bisa dikatakan bahwa universitas dapat dianggap sebagai sasaran paling mudah bagi penyerang cyber, dan kurangnya sumber daya Teknik Informasi, ditambah lagi dengan mahasiswa dan staf yang mestinya tergantung pada ketersediaan jaringan, berarti banyak korban serangan ransomware di perguruan tinggi akan mempertimbangkan untuk membayar permintaan tebusan, dari ratusan ribu dolar dalam bentuk Bitcoin untuk mengembalikan jaringan itu sendiri.

Jika universitas menjadi sasaran empuk, dan salah satunya lebih mudah untuk mendapatkan pembayaran tebusan dari pada bisnis di wilayah lain yang berpotenis memberikan target yang lebih menguntungkan.

Menurut laporan, lebih dari tiga perempat unversitas yang diteliti memiliki port desktop jarak jauh mereka terbuka, dan lebih dari enam puluh persen memiliki port database terbuka, tentunya keduanya menyediakan penyerang cyber dengan titik masuk ke jaringan dan sarana untuk mengirimkan dan mengeksekusi ransomware nya.

Meski serangan cyber dan ransomware terus menjadi ancaman bagi universitas, dan pastinya akan terus berlanjut atau mungkin setelah pengajaran langsung di lanjutkan.

ada hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keamanan cyber dan mengurangi kemungkinannya menjadi korban peretasan :

Menerapkan otentikasi multi-faktor di semua akun email, jadi jika penjahat cyber dapat melanggar kredensial login, akan jauh lebih sulit untuk mengeksploitasinya untuk akses di seluruh jaringan

Universitas juga akan disarankan untuk memantau jaringan untuk perilaku abnormal, seperti login cepat atau login ke beberapa akun dari lokasi yang sama, karena hal tersebut dapat mengindikasikan aktivitas yang mencurigakan.

 

Menyukai Anonymous News Indonesia ? Follow Twitter dan Instagram kami agar tidak ketinggalan update terbaru dari kami.